“Did God created the brain, or does the brain create God?”

A neuroscientific analysis of spiritual experience

 

 

Fakultas Psikologi UKRIDA menyelenggarakan Seminar sehari berjudul “Spiritual Brain – Apakah Tuhan yang menciptakan otak, ataukah otak yang menciptakan Tuhan; sebuah kajian neuroscience pada pengalaman spiritual” pada tanggal 16 Mei 2009, bertempat di Aula UKRIDA..

Pembicara pada seminar ini adalah Mario Beauregard, PhD – seorang ilmuwan dan peneliti neuroscience dari Université de Montreal – Canada; Prof. Dr. Komarudin Hidayat – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Pdt. Yongki Karman – Pendeta dan Theolog Kristen; serta dan bertindak sebagai moderator adalah Dr. Kristi Poerwandari, Psi.

 

Latar Belakang

Dunia Sains terus berkembang dengan cepat; dan kita semua telah menikmati ataupun menanggung akibat-akibat yang dihasilkannya, yang baik ataupun yang buruk. Sejarah telah memperlihatkan bahwa beberapa temuan Sains dapat membawa dampak yang besar pada umat manusia; bahkan mungkin dapat mengubah paradigma dan pemahaman manusia tentang dunia dan tentang dirinya sendiri.

Mata tajam Sains tidak hanya diarahkan pada berbagai objek yang ada di dunia ini, melainkan juga mulai diarahkan pada subjek pengamat itu sendiri, yaitu manusia. Salah satu bidang ilmu yang memfokuskan pengamatannya pada manusia, tidak lain adalah psikologi. Dalam perkembangan mutakhirnya untuk mencoba memahami akar dan kunci perilaku manusia, berkembanglah Neuropsychology yang bertujuan mempelajari interaksi dinamis antara the Mind (“jiwa/kesadaran”) dan the Brain (otak). Cabang ilmu psikologi ini berupaya memahami bagaimana kerja otak dalam memunculkan berbagai lapisan kesadaran, emosi, pikiran, memory dan perilaku manusia; dan sebaliknya bagaimana hal-hal yang paling mendasar bagi kemanusiaan manusia tadi dapat mempengaruhi otak. Melalui penelitian pada otak dalam kaitannya dengan perilaku, sekarang kita dapat lebih memahami darimana munculnya emosi dan bagaimana berkembangnya mekanisme untuk mengendalikannya. Contoh populer dari penelitian ini dapat kita jumpai dalam karya Daniel Goleman yang berjudul “Emotional Intelligence”. Kita pun menjadi semakin paham tentang lapisan-lapisan kesadaran pada manusia dan bagaimana pengalaman-pengalaman manusia disimpan dalam memory, bagaimana sebagian perilaku dilakukan secara sadar dan dapat diingat dengan mudah, dan sebagian lagi tidak.

Kini Neuroscience mulai merambah ke salah satu area hidup manusia yang paling pribadi, paling misterius dan dahulu diduga tidak akan pernah disentuh oleh Sains, yaitu area Spiritual. Kehidupan spiritual adalah area interior manusia, bersifat pribadi sekaligus kultural dan seringkali dianggap sebagai puncak perkembangan kesadaran manusia dan menjadi sumber makna bagi kehidupan manusia. Kehidupan spiritual diyakini hanya dapat dipahami secara subjektif oleh mereka yang mengalaminya (1st person approach) dan merupakan pengalaman yang paling pribadi dan seringkali sukar sekali – kalau tidak mustahil – untuk dapat dikemukakan pada orang lain secara gamblang. Bagaimana hasilnya ketika Neuroscience (3rd approach) mulai memasuki area ini? Bagaimana korelasi antara pengalaman spiritual yang secara subjektif dialami seseorang dengan kerja otaknya di diamati secara objektif di saat yang sama? Apakah pengalaman spiritual tersebut real, ataukah hanya rekayasa? Dan perdebatan abadi antara kaum materialist dan non-materialist,”Apakah Tuhan yang menciptakan otak, ataukah otak yang menciptakan Tuhan?”

Seminar yang diadakan oleh Fakultas Psikologi UKRIDA akan mencoba menjawab hal-hal di atas, dengan menghadirkan salah seorang tokoh Neuroscience non-materialist, yaitu Mario Beauregard, PhD dari Université de Montreal – Canada. Mgr. Beauregard adalah peneliti di Mind/Brain Research Lab (MBRL) – Canada dan telah meneliti pengalaman spiritual kontemplatif pada suster-suster Carmelite yang mendedikasikan hidupnya pada doa dan penyerahan diri pada Tuhan, dengan menggunakan pendekatan dan metodologi Neuroscience. Penelitiannya tersebut menghasilkan temuan yang signifikan dan diyakini dapat memperkaya pemahaman tentang kehidupan spiritual manusia. Hasilnya tertuang dalam buku yang berjudul The Spiritual Brain (2007), yang merupakan jawaban tegas atas karya-karya ilmuwan yang materialist dan atheist, yang mencoba menihilkan makna spiritualitas seperti The God Delusion (Dawkins, 2006), The End of Faith (Harris, 2005). Tidak akan lengkap kalau diskusi ini tidak mengikutsertakan kajian dari segi Budaya, Theology dan Filsafat. Oleh karena itu, akan hadir pula Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Pdt. Yongki Karman, seorang Theolog, Rohaniwan dan Filsuf.

Bagaimana temuan neuroscience pada pengamatannya tentang kehidupan spiritual manusia? Apakah pengalaman spiritual yang dialami benar-benar nyata, ataukah hanya rekayasa? Bagaimana mekanisme neurologis yang melandasi munculnya pengalaman spiritual? Apakah kehidupan spiritual yang dipupuk bertahun-tahun memiliki manfaat bagi kesehatan fisik dan jiwa pelakunya? Bagaimana dampak etis dari temuan ini dan bagaimana kontroversi yang dihasilkannya? Temukan jawaban atas semua pertanyaan tersebut pada Seminar Spiritual Brain yang diadakan Fakultas Psikologi UKRIDA pada tanggal 16 Mei 2009.

 

Siapa saja yang perlu hadir?

  • Psikolog
  • Psikiater, Neurolog dan kalangan medis lainnya
  • Theolog, para pimpinan, penganut dan pemerhati agama-agama.
  • Filsuf dan para pecinta filsafat
  • Semua pihak yang memiliki minat serius pada Spiritualitas, Humaniora dan Etika.

 

Seminar akan diadakan:

Tanggal           : 16 Mei 2009

Jam                  : 09:00 – 15:00

Tempat            : Aula Ukrida

Pembicara        : Mario Beauregard, PhD

                          Prof. Dr. Komarudin Hidayat

                          Pdt. Yongki Karman, PhD

Moderator       : Dr. Kristi Poerwandari, Psi

                                Iman Setiadi Arif, M.Si., Psi